Perempuan Istimewa Di Mata Tuhan: Air Mata Perempuan Tidak Akan Pernah Sia-Sia

575942_203450803117177_876266694_n

 
Oleh : Sadhu Sundar Selvaraj
dishare oleh Althur Robert

Shalom..

“Bapak Sadhu, bilamana ke Patayamkottai, Bapak harus menginap di rumah saya. Jangan tinggal di hotel mana pun. Akan merupakan suatu berkat surgawi bagi kami kalau Bapak tinggal di rumah kami.” demikianlah yang di minta oleh seorang saudari seiman.

Seperti perempuan Sunem yang menyediakan Elia sebuah kamar untuk beristirahat bilamana ia datang ke Sunem, perempuan India ini dan suaminya menawarkan saya hal yang sama (2 Raja-raja 4:8-10). Ini suatu kehormatan bagi saya.

Pada tahun 1984, saya pergi ke Patayamkottai, sebuah kota di daerah Tirunelveli di negara bagian Tamilnadu, India Selatan. Seperti biasanya saya mengunjungi keluarga itu yang penuh kasih. Begitu nyonya rumah melihat saya memasuki halaman rumahnya, ia berlari keluar dari dalam dapur, menyambut saya dengan hangat. Lalu saya bertanya,

“Apa kabar, saudaraku…?”

Begitu saya selesai bertanya, ia tertunduk di kaki saya dan menangis tersedu-sedu, tak terkendali. Segala usaha untuk menghibur dia sia-sia saja.

Saya lalu merasakan di dalam roh bahwa ibu ini sedang mempunyai masalah besar. Ia tidak mampu mengutarakan kesedihan dan penderitaannya melalui kata-kata. Kemudian saya menumpangkan tangan ke atas kepalanya, menengadah ke langit dan mendesah,

“Tuhan Yesus……..”
Tiba-tiba saya melihat Tuhan Yesus berdiri di sebelah kanan saya.

Dengan penuh kasih Ia bertanya kepada saya,
“Anak-Ku, apa yang kau inginkan..?”

Saya menjawab, “Tuhan, tolonglah, lihatlah anak-Mu ini. Lihat, ia menangis tersedu-sedu.”

Lalu Tuhan Yesus membungkuk kepada ibu itu. Ia melekukkan telapak tangan-Nya seperti hendak menampung air dan menempelkannya di pipi kiri ibu itu. Semua air matanya jatuh ke dalam lekukan telapak tangan Tuhan Yesus. Segenangan air mata tertampung di dalam tangan Tuhan Yesus yang berlubang paku.

Tuhan Yesus lalu berdiri dan menatap saya sejenak. Detik berikutnya saya mendapati diri saya dalam roh, berdiri di alam surgawi. Tempat itu indah sekali, penuh dengan sinar kemuliaan Allah. Dari jauh saya melihat sesuatu yang menyerupai tabut perjanjian (Why 11:19).

“Maka terbukalah Bait Suci Allah yang di sorga, dan kelihatanlah tabut perjanjian-Nya di dalam Bait Suci itu dan terjadilah kilat dan deru guruh dan gempa bumi dan hujan es lebat.”

Pada tabut itu dan di antara sayap-sayap kerubim, saya melihat ada awan tebal yang bersinar terang. Awan itu tampak berpijar-pijar hidup dan berputar-putar. Cahaya terang kekuning-kuningan bersinar dari dalamnya ke segala penjuru. Dalam roh saya mengerti bahwa saya sedang melihat Awan Bapa surgawi yang menyatakan kehadiran-Nya. Saya gemetar karena ketakutan yang kudus.

Tuhan Yesus mendekati tabut itu dan menaruh semua air mata ibu itu di dalam botol
(Mazmur 56:9).

“Sengsaraku Engkaulah yang menghitung-hitung, air mataku Kautaruh ke dalam kirbat-Mu.”

Ia lalu berlutut di depan tabut dan berdoa bagi ibu itu. Ketika Tuhan Yesus berdoa, Ia menangis teramat sangat sambil memohon rahmat Tuhan yang pengasih dan penyayang (Ibr 5:7, 7:25).

Ibrani 5:7
“Dalam hidup-Nya sebagai manusia, Ia telah mempersembahkan doa dan permohonan dengan ratap tangis dan keluhan kepada Dia, yang sanggup menyelamatkan-Nya dari maut, dan karena kesalehan-Nya Ia telah didengarkan.”

Ibrani 7:25
“Karena itu Ia sanggup juga menyelamatkan dengan sempurna semua orang yang oleh Dia datang kepada Allah. Sebab Ia hidup senantiasa untuk menjadi Pengantara mereka.”

Berkali-kali Ia menunjuk tangan-Nya ke botol yang berisi air mata dan berkata,

“Bapa, lihatlah air mata anak-Ku.”

Akhirnya ada suara yang keras, memekakkan telinga, mengguntur dari dalam awan, dan berkata,

“Dikabulkan.”

Barulah Tuhan Yesus berhenti berdoa.

Ia berdiri dan datang ke dekat saya. Ia menatap ke mata saya dan berkata,

“Pulanglah dan katakan kepada anak-Ku bahwa doanya sudah di dengar dan dikabulkan.”

Sampai saat itu saya tidak tahu apa masalah ibu itu. Tuhan Yesus lalu menyingkapkan kepada saya keempat masalah ibu itu berikut jawabannya yang pasti akan segera diterimanya.

Ketika saya mendapati diri saya sudah di bumi, saya mengangkat ibu itu sehingga ia kembali berdiri. Saya menceritakan pengalaman surgawi tadi. Ketika ia mendengar bahwa Allah sudah menjawab ke empat masalahnya, ia bersukacita sekali dan merasa sangat terhibur.

Waktu saya di surga dalam roh, Tuhan Yesus mengatakan sesuatu kepada saya yang kesannya tak terhapuskan dari hati saya.
Ia berkata,

“Air mata perempuan tidak akan pernah sia-sia!”

Saudaraku yang kukasihi, ukirlah perkataan itu di hati Anda.

Anda menangisi apa…?
Apakah anda ditipu oleh suami Anda…?
Apakah Anda kehilangan suami…?
Apakah Anda kehilangan kepercayaan pada diri sendiri…?
Apakah masa depan Anda gelap dan suram..?
Apakah Anda menangis dan menangis sampai air mata Anda kering…?

Saudaraku yang kukasihi, tabahkanlah hati Anda. Tuhan Yesus yang menyatakan diri-Nya untuk menampung air mata perempuan India itu juga sedang berdiri di depan Anda saat ini.

Ketika saya sedang menulis paragraf ini, Tuhan memberi kemampuan kepada saya untuk melihat dalam roh bahwa Ia sedang bediri saat ini di depan Anda, saudaraku, selagi Anda membaca kesaksian ini, Dia sedang mengulurkan tangan-Nya yang berlubang paku, Ia berkata,

“Anak-Ku, darah yang keluar dari kedua tangan-Ku untuk penderitaan yang sedang engkau alami ini lebih dari air mata yang keluar dari matamu.”

Janganlah menangis, saudaraku. Usaplah air mata Anda. Tidakkah Tuhan Allah menjanjikan bahwa,

“Seperti seseorang yang dihibur ibunya, demikianlah Aku ini akan menghibur kamu.” (Yes 66:13)

Saudaraku yang kukasihi, Tuhan Yesus tidak bersikap masa bodoh terhadap air mata Anda yang tercurah secara diam-diam.

Saya pernah diundang untuk berbicara dalam sebuah konferensi di Sydney, Australia, pada tahun 1996. Pada suatu malam sewaktu saya berdoa sebelum berkhotbah, saya melihat langit terbuka di hadapan saya (Yehezkiel 1:1).

“Pada tahun ketiga puluh, dalam bulan yang keempat, pada tanggal lima bulan itu, ketika aku bersama-sama dengan para buangan berada di tepi sungai Kebar, terbukalah langit dan aku melihat penglihatan-penglihatan tentang Allah.”

Saya melihat Tuhan Yesus berdiri dan berdoa dengan tangan terentang di hadapan Awan Kemuliaan Tuhan. Roh Kudus memperkenankan saya mendengar doa-Nya.

Jadi saya mendengar Tuhan Yesus berdoa,

“Bapa-Ku, banyak anak-Ku sudah berkumpul di Sydney untuk konferensi. Di antara mereka ada seorang ibu yang anak remajanya meninggalkan rumahnya tanpa memberitahu. Sebagai akibatnya, anak-Ku sudah sejak lama menangis, memohon Aku membawa anaknya kembali kepadanya. Kabulkanlah permohonan anak-Ku.”

Ketika saya sedang menceritakan kepada hadirin apa yang sedang saya lihat, semua orang mendengar tangisan keras dari belakang ruangan itu. Di akhir kebaktian, seorang ibu setengah baya datang kepada saya dan berkata bahwa dialah yang menangisi putrinya yang hilang.

Saudaraku yang kukasihi, air mata Anda tidak tersembunyi di hadapan Tuhan Yang Maha Tahu. Kasih sayang-Nya yang tidak pernah pudar, tidak akan pernah membuat Dia masa bodoh terhadap air mata yang mengalir dari hati Anda yang hancur. Ratapan 3:22 mengatakan :

“Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya.”

Tuhan Yesus akan menghapus air mata Anda, saudaraku, karena ANDA ISTIMEWA DI MATA TUHAN.

[ ‘Perempuan Istimewa Di Mata Tuhan’ penerbit Nafiri Gabriel – Originally published in English under the title ‘Woman Are Special To God’ by Sadhu Sundar Selvaraj ]

***********

Latar belakang penulisan buku “Perempuan Istimewa Di Mata Tuhan”:

Pada bulan Januari 1991, seorang pendeta di Himalaya mengundang saya menjadi salah seorang pembicara dalam seminar bagi kaum wanita yang diorganisir olehnya. Saya memohon untuk tidak diikutsertakan. Saya mengatakan bahwa saya orang yang paling tidak tepat untuk berbicara kepada kaum wanita. Tetapi ia berkata,

“Jangan khawatir Sadhuji, saya hanya akan memberi satu session. Bicara sajalah tentang iman.” Dorongannya yang hangat itu akhirnya menggerakkan saya untuk menerima undangannya.

Kemudian dalam membuat persiapan khotbah, saya hanya menyelidiki apa yang dikatakan Alkitab tentang iman dan kaitannya dengan perempuan. Pada hari saya dijadwalkan untuk berkhotbah, di waktu pagi ketika saya sedang sibuk bersiap-siap, saya mendengar suara yang kecil dan lembut – suara Roh Kudus berkata :

“Anak-Ku, kalau engkau ke mimbar, katakan kepada putri-putri-Ku alangkah istimewanya perempuan di mata Tuhan.”

Saya tercengang. Belum pernah saya mendengar sesuatu seperti itu. Jadi saya bertanya kepada Roh Kudus dan memohon supaya Ia mengajar saya, bagaimana Ia menghendaki saya berkhotbah tentang tema tersebut. Kemudian Roh Kudus memberi saya keseluruhan garis besar tema itu.

Sejak pesan “Perempuan Istimewa Di Mata Tuhan” disampaikan melalui khotbah, buku dan rekaman – ribuan perempuan dari berbagai penjuru dunia menyatakan secara tertulis bahwa mereka diberkati dan merasa dikuatkan.

Saya yakin buku “Perempuan Istimewa Di mata Tuhan” akan terus menjadi berkat dan membesarkan hati kaum perempuan dimanapun mereka berada.

Anda Istimewa Di Mata Tuhan, Saudariku!

Tuhan Yesus Memberkatimu

maxresdefault (10)

Iklan